Dalam hitungan minggu, PEMILU akan berlangsung (yang kalo penundaan yang lagi diribut-ributkan ga jadi, ^_^). Banyak orang menyebutnya sebagai pesta demokrasi terbesar. Bahkan saya pernah baca di “suatu artikel yang sayangnya entah dimana saya lupa”, bahwa sekarang Indonesia dipuji-puji oleh “sebuah negara yang merasa punya kuasa”, sebagai salah satu negara demokratis di dunia. Suatu pujian, yang bagi saya tentunya, entah bermakna apa.
Indahnya Indonesia, selalu menyediakan beragam pilihan. Lihatlah warna-warni warna dan foto-foto dan poster Caleg beserta partainya, indah bukan? Betul-betul Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tapi tetap satu tujuan (untuk dipilih tentunya). Tak terhitung banyak dana yang sudah dihabiskan untuk berpartisipasi menyemarakkan Pemilu kali ini, entah dana dari mana. Kasian kan kalo ga diapresiasi… :p
Sebagai rakyat jelata, tentu saja saya merindukan kehidupan yang lebih baik. Dan bagi sebagian orang, PEMILU adalah salah satu solusi menuju hal tersebut. Maka dari itu, bagi yang merasa “mau ga mau harus memilih”, gunakanlah hak pilih tersebut dengan bijak. Kriteria bijak itu sendiri bagaimana, ya tergantung yang menggunakan.
Bagi sebagian orang yang lain yang merasa “mau tapi ga ada pilihan yang sreg terus akhirnya ga mau memilih”, tetaplah mendukung pesta demokrasi ini. Semoga ke depannya akan lebih baik.
Monggo…
Berbagi
March 26th, 2009

Satu lagi bukti kedekatan Obama dengan orang Indonesia… ^_^
Berbagi
February 20th, 2009
Entah apa yang ada di dalam pikiran-pikiran para pemuja perang, seakan-akan tidak ada kata damai. Mereka merayakan tahun baru dengan menumpahkan darah dimana-mana, petasan diganti dengan bom dan rudal berdaya ledak tinggi, menghujani setiap jengkal bangunan yang ada tanpa belas kasihan.
Entah apa yang ada di dalam pikiran para korban perang, seakan-akan tidak ada kebahagiaan. Mereka merayakan tahun baru dengan air mata dan kehilangan…
Berbagi
January 3rd, 2009
Ketika ditanya seperti itu, seringnya saya cuma menerawang.
“Apakah saya harus selalu punya alasan untuk sesuatu hal yang dilakukan secara suka rela dan tanpa ada paksaan dari orang lain?”
Berbagi
December 4th, 2008
Seorang teman, dulu kala, pernah bertanya, “Bagaimanakah ukuran lama tidaknya suatu penantian?”
Pertanyaan tadi tiba-tiba kembali hadir menemaniku di sebuah bandara terkenal di Indonesia, kala menunggu pesawat yang terpaksa delay gara-gara cuaca buruk.
Apakah tiga jam menunggu itu lama? Karena saat ini di bandara saya jelas merasa tiga jam menunggu itu lama sekali…
Bisakah 15 menit menunggu itu termasuk lama? Karena ketika mengantri di toilet, 15 menit terasa sangat lama, maklum kebelet… 
Ada yang bilang tiga jam itu termasuk sebentar jika dibandingkan harus menunggu seharian, dan ada juga yang bilang bahwa menunggu 15 menit itu lama karena sebenarnya bisa dibuat menjadi hanya 5 menit.
Dan saya pun merenungi pertanyaan teman lama saya itu, “Bagaimanakah ukuran lama tidaknya suatu penantian?”
Berbagi
November 28th, 2008
Tuhan rupanya masih sering menyapa Indonesia tercinta ini. Angin puting beliung di Jogja, banjir di Sumatera, longsor dan bencana lainnya, harusnya mengingatkan manusia bahwa Tuhan masih bersedia menegur untuk ingat pada-Nya. Tinggal bagaimana manusia menyikapinya, mau marah dan mengutuk atau bersyukur dan kembali mengingat-Nya…
Berbagi
November 11th, 2008
Baru saja membaca sebuah artikel di blognya Kafi Kurnia, yang bercerita tentang Cak To, entrepreneur pengemis, yang ia kutip dari Jawa Pos. Coba deh berkunjung kesana, kali aja ada yang tertarik untuk menekuni hal yang sama…
Apa kabar hari ini? Sudah lama rasanya saya tidak bersua…
Berbagi
September 26th, 2008
Ada pengalaman menarik ketika jalan-jalan pas liburan. Di dalam bis antarkota yang penuh sesak dengan tujuan Solo, secara tidak sengaja mendengar obrolan seru antara dua orang penumpang yang duduk tepat di depan saya. Isu yang diobrolkan tentu saja masih hangat, yaitu POLITIK. Berikut petikan obrolannya (diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa)
- Bapak A : Pemilu saiki rame yo? Kowe wis duwe jago durung? (pemilu sekarang ramai ya? Kamu sudah punya jago belum?)
- Bapak B : Belum e. Mumet aku delok partai sakmono okeh e… (Belum. Pusing aku liat partai segitu banyaknya)
- Bapak A : Wis, ra sah mumet. Kowe melu partaiku wae… (Sudah, ga usah pusing. Kamu ikut partaiku saja)
- Bapak B : Lho, saiki kowe melu partai toh? Gaya banget… Mending nyambut gawe wae sing genah.. (Sekarang kamu ikut partai ya? Gaya banget. Mending kerja aja yang benar)
- Bapak A : Ora ngono maksud e. Nek kowe melu dadi anggota partaiku iki, mengko oleh asuransi. Gratis lagi. Apik toh? (Bukan begitu. Kalo kamu jadi anggota, ntar dapat asuransi. Gratis. Oke kan?)
- Bapak B : Trus program partai e opo? (Program partainya apa?)
- Bapak A : Halah, ra sah dipikir soal ngono-ngono kui. Paling yo podo karo liane. Sing penting aku wis oleh asuransi.Nang kampungku kabeh wis do melu lo, bahkan ada yang nyalonke dadi caleg. Padahal wong e mek dagang wae… (Halah, ga usah dipikir yang gitu-gitu itu. Paling juga sama dengan yang lain. Yang penting aku uda dapat asuransi. Di kampungku semua sudah pada ikut lo, bahkan ada yang mencalonkan jadi caleg. Padahal dia cuma pedagang saja)
- Bapak B : Walah, nek kabeh mikir kayak kowe mangko piye dadine negoro iki… Mending aku ra milih wae… (Walah, kalo semua punya pikiran seperti itu entar apa jadinya negara ini. Mending aku ga usah milih saja)
Mendengar sekelumit obrolan tersebut sayapun jadi kembali berpikir. Sudah sejauh manakah pendidikan politik menjamah negara tercinta ini. Apakah arti demokrasi, apakah para pelaku politik yang terhormat itu memahami betl maknanya? Sebenarnya siapa yang bodoh, rakyat atau orang-orang yang menyebut dirinya sebagai orang yang mewakili rakyat? Saya rasa rakyat tidak bodoh, mereka hanya mencoba menjadi realistis …
Apa kabar hari ini?
Berbagi
August 22nd, 2008

Berbagi
August 14th, 2008

Berbagi
August 13th, 2008
Previous Posts