Seperti hari-hari kerja biasanya, sebuah kereta dalam kota sudah dipenuhi oleh penumpang yang berjejal takut tidak mendapatkan kereta selanjutnya. Untuk berdiri saja terasa sesak sekali. Di antara keramaian tersebut, seorang penumpang wanita yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk mendadak berpaling dengan wajah penuh ekspresi marah kepada pria yang berdiri persis di belakangnya,
“Hei, kamu! Kalau kamu tidak berhenti menyodok-nyodok dari belakang, saya akan teriak agar kamu nanti habis dipukuli orang-orang!” Pria yang tepat berada di belakang dirinya itu menjawab, “Saya tidak mengerti apa yang Mbak bicarakan,” Si pria itu lalu meneruskan bicaranya, “Yang Mbak rasakan menonjol itu cuma uang yang saya taruh di kantung depan celana saya. Saya baru gajian, Mbak.” “Oh ya?” tanya si wanita itu kembali dengan ketus dan semakin marah. Si wanita menambahkan, “Kalau begitu hebat benar kamu ya, selama berdiri di situ gaji kamu bertambah terus!”
Berbagi
March 16th, 2010
“Mas mau beli koin Poker ga? Koin 1 Milyar cukup bayar Rp 10ribu aja, ditempat laen ada yang Rp 15 ribu lho…“
Pertanyaan ini saya dapat waktu lagi nongkrong di salah satu warnet di kota Sanggau, Kalbar. Pertanyaan yang sama juga saya dapat di salah satu biro koran di daerah itu, waktu mau pasang iklan kolom. Pegawainya melayani saya sambil bermain Games Poker di komputernya. Demikian juga dengan kawannya di seberang meja.
Bagi anda pecinta games-games keluaran FB, tentu tidak asing dengan games Poker ini, atau mungkin anda adalah salah satu penggemar beratnya. Saya pernah mencobanya sekali, tetapi gagal untuk menggemarinya.
Mendapati pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya jadi paham kenapa hampir di setiap warnet yang saya datangi, rata-rata penjaga dan pengunjungnya sedang memainkan games ini. Dan beberapa kali saya memang mendapati pengunjung warnet ada yang menghampiri penjaga warnet untuk membeli koin Poker.
Saya sih sampai sekarang tidak begitu paham, untuk mendapatkan koin 1 Milyar itu menghabiskan berapa jam akses internet. Tetapi bagi penjaga warnet atau pegawai biro koran tadi, jelas itu bukan masalah, karena akses internetnya gratis. Dengan biaya modal yang nol dan bisa disambi bekerja, ini menjadi bisnis yang mengasyikkan.
Jadi teringat lagunya Bang Haji…
Berbagi
February 27th, 2010
Siang itu panas sekali. Aku menunggu di dalam angkot, bersama dengan tiga orang lainnya yang tentu saja tidak aku kenal, menggerutu di dalam hati karena belum juga berangkat. Sesekali melirik ke HP, untuk melihat waktu. Pak sopir terus berteriak memanggil penumpang sambil mengipasi dirinya dengan topi. Karena tak jua mendapatkan tambahan penumpang, akhirnya pak sopir pun memutuskan untuk berangkat.
Angkot berjalan dengan pelan, karena pak sopir masih mengharapkan penumpang. Aku masih menggerutu dalam hati, sambil melihat HP, mengecek waktu, dan merasa gelisah.
Hingga ada seorang bapak yang menyetop angkot. Awalnya aku tak perduli dengannya. Tapi ketika bapak itu naik dan duduk di dekat pintu angkot, dia melayangkan senyum kepadaku. Aku langsung terdiam dan tak berani menatapnya. Aku langsung merasa malu dengan diriku sendiri. Malu karena jarang sekali bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan Tuhan. Malu karena tadi menggerutu tanpa henti cuma gara-gara kepanasan sebentar di dalam angkot.
Dan akhirnya Bapak itu tiba di tujuannya. Dengan susah payah dia turun dari angkot, dengan tetap tersenyum. Meskipun dia terpaksa berjalan meringsut dengan tangannya, tanpa tongkat. Karena kedua kakinya lumpuh…
Berbagi
February 2nd, 2010
Adalah dilema jika terpaksa harus berjanji tetapi tidak bisa memastikan kapan bisa menepati janji itu. Sehingga janji itu tetap harus terucap, karena terkait dengan rencana hidup orang yang dijanjikan.
Kerinduan membuat aku berjanji untuk pulang menemuinya, sejak tiga bulan lalu. “Telepon dan sms tidak cukup untuk menggantikan kehadiranmu”, begitu katanya. Tapi pekerjaan yang menumpuk, jarak yang terpisah pulau, serta keuangan yang menipis membuat janji itu terus kupaksa untuk berjalan mundur hingga hari ini.
Terus dipaksa untuk menelan ketidakpastian membuatnya berucap, “Orang yang tidak bisa menepati janji, sama dengan orang yang tidak bertanggung jawab”. Marah? Jelas sekali terasa dari kata dan intonasinya. Aku pun terdiam, tak kuasa untuk mengajak bersilat lidah.
Yup, inilah masalah paling populer dari Long Distance Relationship. Tapi aku tetap belum bisa memberinya kepastian itu, betapapun inginnya aku saat ini…
Berbagi
January 17th, 2010
“Lha, kok tiba-tiba ikutan bikin resolusi? Tahun baru mah udah lewat bos. Mendingan go with the flow ajalah…“
Begitulah celetukan seorang teman ketika pagi tadi saya mengganggu dia dengan gagasan-gagasan resolusi di 2010 ini. Tak ada yang istimewa, karena dari tahun ke tahun gagasan-gagasan resolusi itu sama adanya. Dan saya pernah mendengar dan membaca (entah dimana saya lupa), ada orang yang resolusinya adalah “berhenti membuat resolusi“.
Faktanya, sangat mudah bagi saya untuk membuat sebuah gagasan resolusi tapi sungguh sulit untuk melaksanakannya. Apalagi resolusi tersebut hanya saya yang tahu, sehingga ketika tidak terlaksanapun saya tidak akan merasa malu.
Tetapi hari ini saya ingin membuat sedikit perubahan dengan melibatkan orang lain untuk mengawasi pelaksanaan resolusi yang saya buat hari ini. Karena saya ingin belajar untuk merasa malu, karena telah membohongi diri sendiri.
Dan resolusi 2010 itu adalah, “Rutin Update Blog Ini Minimal 2 Minggu Sekali, Karena Saya Ingin Blog Ini Tetap Ada Sehingga Bisa Dibaca Anak Cucu Saya Nanti Meskipun Saat Ini Saya Belum Punya Anak“
That’s It. Gampang kan bikinnya. Mari kita lihat apakah segampang itu saya melaksanakannya… ^^
Berbagi
January 12th, 2010
Okeh people, dalam kesempatan update yang langka hari ini saya mau talk about twitter aja lah…
Honestly, saya baru ajah understand gimana caranya maen Twitter itu baru last week tepatnya per tanggal 24 Desember 2009. Sebelumnya saya taunya cuma nge-following artis dan blogger favorit aja. Masih inget pertama kalinya yang saya following adalah Raditya Dika aka Kambing Jantan, Joko Anwar dan Pandji. Setelah itu baru following artis-artis laennya. Dari ranah blogger seleb yang saya following tentu saja Ndoro Kakung, Paman Tyo, mas Iman Brotoseno, mas Nukman, mas Momon, mbak Tika yang banget ituh, Kanjeng Raja Matriphe, mas Fanabis dan mbak Dos. Tak ketinggalan tokoh-tokoh yang saya kagumi seperti Wimar, GM, Mir Les, Dee dan Desi Anwar.
Awalnya saya merasa very confusing mengikuti conversation ala twitter ini: gimana caranya mau ikutan komentar dan apa artinya RT, DM, #, dan @. Beruntunglah saya diberi pencerahan oleh tuturannya mbak Dos. Lalu setelah itu saya secara slowly mulai bisa bercakap ala twitter.
Dan conclusion saya:
Bermain twitter sangat menyenangkan. Walaupun saya berada di luar Jawa, saya jadi tidak merasa ketinggalan informasi tentang isu-isu apa yang sedang hot saat ini. Akibatnya, sekarang saya jadi kecanduan Twitter dan mulai abai pada Facebook (kecuali untuk maen Mafia Wars dan Cafe).
Tapi, follower saya baru 3 orang. Kalo ada yang khilaf dan mau follow saya, silahkan meluncur ke www.twitter.com/ekoprayit
Selamat Tahun Baru 2010
*Mohon maaf atas kekacauan bahasa yang ditimbulkan. Tiup terompet*
Berbagi
January 4th, 2010

Untung akses fesbuk via Handphone kantor tidak ikut-ikutan ditutup… ^_^
Berbagi
November 11th, 2009
Bisa karena biasa, karena biasa jadi bisa…
1. Saya, orang yang “sangat-sangat” malas bangun pagi, jadi “terpaksa bisa” bangun pagi gara-gara jam 8 pagi sudah harus siap di tempat kerja…
2. Saya, orang yang “sangat-sangat” gagap internet, jadi “terpaksa bisa” browsing sana-sini gara-gara kerjaan yang mau ga mau harus pake internet…
3. Saya, orang yang “sangat-sangat” pemalu, jadi “terpaksa bisa” ga tau malu gara-gara tempat kerja mengharuskan untuk menjalin networking…
4. Saya, orang yang “sangat-sangat” lama ga nge-blog, jadi “terpaksa bisa” posting gara-gara kangen nge-blog lagi hari ini…
Apa kabar hari ini? Tidakkah kita sudah “sangat-sangat” lama tidak bersua…
Berbagi
July 5th, 2009
Dalam hitungan minggu, PEMILU akan berlangsung (yang kalo penundaan yang lagi diribut-ributkan ga jadi, ^_^). Banyak orang menyebutnya sebagai pesta demokrasi terbesar. Bahkan saya pernah baca di “suatu artikel yang sayangnya entah dimana saya lupa”, bahwa sekarang Indonesia dipuji-puji oleh “sebuah negara yang merasa punya kuasa”, sebagai salah satu negara demokratis di dunia. Suatu pujian, yang bagi saya tentunya, entah bermakna apa.
Indahnya Indonesia, selalu menyediakan beragam pilihan. Lihatlah warna-warni warna dan foto-foto dan poster Caleg beserta partainya, indah bukan? Betul-betul Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tapi tetap satu tujuan (untuk dipilih tentunya). Tak terhitung banyak dana yang sudah dihabiskan untuk berpartisipasi menyemarakkan Pemilu kali ini, entah dana dari mana. Kasian kan kalo ga diapresiasi… :p
Sebagai rakyat jelata, tentu saja saya merindukan kehidupan yang lebih baik. Dan bagi sebagian orang, PEMILU adalah salah satu solusi menuju hal tersebut. Maka dari itu, bagi yang merasa “mau ga mau harus memilih”, gunakanlah hak pilih tersebut dengan bijak. Kriteria bijak itu sendiri bagaimana, ya tergantung yang menggunakan.
Bagi sebagian orang yang lain yang merasa “mau tapi ga ada pilihan yang sreg terus akhirnya ga mau memilih”, tetaplah mendukung pesta demokrasi ini. Semoga ke depannya akan lebih baik.
Monggo…
Berbagi
March 26th, 2009

Satu lagi bukti kedekatan Obama dengan orang Indonesia… ^_^
Berbagi
February 20th, 2009
Previous Posts