Ngobrolin Partai Yuk…

Ada pengalaman menarik ketika jalan-jalan pas liburan. Di dalam bis antarkota yang penuh sesak dengan tujuan Solo, secara tidak sengaja mendengar obrolan seru antara dua orang penumpang yang duduk tepat di depan saya. Isu yang diobrolkan tentu saja masih hangat, yaitu POLITIK. Berikut petikan obrolannya (diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa) :)

 

  • Bapak A : Pemilu saiki rame yo? Kowe wis duwe jago durung? (pemilu sekarang ramai ya? Kamu sudah punya jago belum?)
  • Bapak B : Belum e. Mumet aku delok partai sakmono okeh e… (Belum. Pusing aku liat partai segitu banyaknya)
  • Bapak A : Wis, ra sah mumet. Kowe melu partaiku wae… (Sudah, ga usah pusing. Kamu ikut partaiku saja)
  • Bapak B : Lho, saiki kowe melu partai toh? Gaya banget… Mending nyambut gawe wae sing genah.. (Sekarang kamu ikut partai ya? Gaya banget. Mending kerja aja yang benar)
  • Bapak A : Ora ngono maksud e. Nek kowe melu dadi anggota partaiku iki, mengko oleh asuransi. Gratis lagi. Apik toh? (Bukan begitu. Kalo kamu jadi anggota, ntar dapat asuransi. Gratis. Oke kan?)
  • Bapak B : Trus program partai e opo? (Program partainya apa?)
  • Bapak A : Halah, ra sah dipikir soal ngono-ngono kui. Paling yo podo karo liane. Sing penting aku wis oleh asuransi.Nang kampungku kabeh wis do melu lo, bahkan ada yang nyalonke dadi caleg. Padahal wong e mek dagang wae… (Halah, ga usah dipikir yang gitu-gitu itu. Paling juga sama dengan yang lain. Yang penting aku uda dapat asuransi. Di kampungku semua sudah pada ikut lo, bahkan ada yang mencalonkan jadi caleg. Padahal dia cuma pedagang saja)
  • Bapak B : Walah, nek kabeh mikir kayak kowe mangko piye dadine negoro iki… Mending aku ra milih wae… (Walah, kalo semua punya pikiran seperti itu entar apa jadinya negara ini. Mending aku ga usah milih saja)

 

 

Mendengar sekelumit obrolan tersebut sayapun jadi kembali berpikir. Sudah sejauh manakah pendidikan politik menjamah negara tercinta ini. Apakah arti demokrasi, apakah para pelaku politik yang terhormat itu memahami betl maknanya? Sebenarnya siapa yang bodoh, rakyat atau orang-orang yang menyebut dirinya sebagai orang yang mewakili rakyat? Saya rasa rakyat tidak bodoh, mereka hanya mencoba menjadi realistis …

Apa kabar hari ini? :)

 

1 comment August 22nd, 2008

DICARI!

dicari.jpg

Add comment August 14th, 2008

Merdeka atau Mati?

merdeka1.jpg

Add comment August 13th, 2008

Bebas Merdeka

merdeka3.jpg 

Terinspirasi dari the different indonesia.

Add comment August 12th, 2008

Inflasi Hari Ini

Di suatu Jum’at yang indah di Jogja, setelah selesai menunaikan solat Jum’at dan sejenak beristirahat di depan masjid, secara tak sengaja saya mendengar percakapan dua orang ibu yang sedang duduk menunggu sedekah di dekat pintu gerbang masjid. Topik yang mereka bahas ternyata cukup serius, yaitu tentang kondisi perekonomian Indonesia, terutama terkait dengan “pekerjaan” yang mereka tekuni. Berikut petikan percakapannya (dalam bahasa Indonesia) :

  •  
    • Ibu A: Wah, sekarang harga apa-apa naik semua ya? Pusing aku…

    • Ibu B: (sambil mengelap keringat) Iya, terus mau bagaimana lagi. Katanya ini karena minyak naek…

    • Ibu A: Mana sekarang saingan tambah banyak lagi (sambil melihat peminta sedekah yg laen)…

    • Ibu B: (sambil angguk-angguk) Iya, nggak tau itu dari mana aja…

    • Ibu A: Mana sekarang koran-koran pada dijual seribuan lagi. Orang-orang kok enteng banget ya ngeluarin duit seribu untuk beli koran, tapi kok kalo ngasih kita-kita kayaknya berat banget…

    • Ibu B: Iya ya… Dari dulu sampe sekarang paling yang kita dapet cuman seratusan. Kok sedekahnya ga ikutan naek ya… Padahal sekarang seratus bisa buat beli apa? Parkir motor aja sekarang seribu. Sukarela sih sukarela, tapi ya jangan pelit banget. Harusnya ya kalo sedekah juga minimal limaratus lah…

Demikian reportase saya dari masjid *******

*(Beritahariini, pengamat ekonomi sok-sok-an) :)

4 comments August 7th, 2008

Gerilya Marketing ala Bajigur!

 8.jpg

 2.jpg

5.jpg

Benar-benar di luar dugaan, di ajang  Pinasthika Festival Iklan 2008 tanggal 31 juli - 2 Agustus di Jogjakarta kemarin, kampanye gerilya marketing ala Bajigur! berhasil meraih penghargaan Gold Baskara kategori Iklan Materi Penunjang, sub kategori Unconventional Media. Kampanye yang mendapat pujian dari para dewan juri karena idenya sederhana tapi outstanding.

bajigur5.jpg

Sedangkan poster Bajigur! edisi Mantenography karya mas Diru Keledai di atas, berhasil meraih penghargaan GOLD untuk kategori Media Graphic Desain, sub kategori Poster dan juga meraih penghargaan GOLD untuk kategori Best Art Direction.

bajigur4pdf.jpg

Nah, yang ini juga tidak ketinggalan untuk memborong penghargaan di Festival Iklan Pinasthika 2008. Karya dari Rokkinvisual ini berhasil meraih penghargaan GOLD untuk kategori Media Graphic Desain, sub kategori Cover kaset, CD, VCD dan DVD serta penghargaan GOLD sebagai Best Overall Entries.

Total, Bajigur! berhasil memborong 5 penghargaan GOLD di Festival Iklan Pinasthika 2008 kali ini. Nice artwork and congratulations guys! :)

Add comment August 5th, 2008

Jika saya jadi…

Saya senang berandai-andai, karena terinspirasi lagunya pakde John Lenon yang Imagine itu. Mumpung ini masih hari Senin, dan karena saya memang kurang kerjaan, sayapun mulai meracau dan berandai-andai:

  • Jika saya jadi Batman, saya segera ke Indonesia karena korupsi Indonesia lebih parah daripada Gotham City.

  • Jika saya jadi Superman, saya juga akan ke Indonesia karena Batman pasti butuh instruktur bagaimana cara terbang yang aman di Indonesia.

  • Jika saya jadi Spiderman, saya juga ikut ke Indonesia karena Batman dan Superman pasti butuh fotographer yang oke untuk ngumpulin bukti-bukti, sekalian buat posting-posting di blog.

  • Jika saya jadi presiden, saya akan langsung mengundurkan diri karena toh sudah ada Batman, Superman dan Spiderman. Ngurusin Indonesia ribet, nggak ada enak-enaknya… :)

 

 

2 comments August 4th, 2008

apa saja dimana saja

Saya suka baca, apa saja dimana saja. Kalo lagi di lampu merah, saya suka baca spanduk atau baliho yang memang fungsi keberadaannya untuk dibaca. Kalo lagi makan di warteg atau burjo, saya suka baca koran yang disediakan warteg tersebut, walaupun harus (rebutan) berbagi halaman dengan konsumen yang laen. Kalo lagi di coffe shop, saya suka baca buku-buku atau majalah yang ada disana, walaupun stok yang ada biasanya sudah ketinggalan beberapa edisi. Kalo di warnet, saya suka baca email dan juga tentunya blogwalking.

Kesukaan ini sering sekali mendapat gangguan. Ketika sedang asyik baca spanduk di lampu merah, saya sering diklakson. Ketika sedang asyik baca di warteg, saya sering dicolek supaya gantian halamannya. Ketika sedang asyik baca di coffe shop, saya sering ditegur, “Maaf mas, kita sudah mau tutup nih!” Dan ketika asyik baca di warnet, tidak bisa lama-lama karena sadar bahwa duitnya pas-pasan.

Dan ketika membaca posting ini, sampeyan pasti protes dan berkata ”Ini tulisan tentang apa sih, nggak penting banget…!!!”

Apa kabar hari ini? :)

3 comments August 3rd, 2008

Menjadi Lokal

Jogja, sepertinya mempunyai daya tarik yang besar untuk bisnis media. Setelah tv lokal, sekarang giliran koran lokal yang mencoba peruntungannya di Jogja. Belum lama ini, lahir dengan selamat Harian Jogja atau yang dipopulerkan dengan sebutan Harjo. Sebelumnya, sudah muncul harian Joglosemar. Kehadiran kedua media baru ini tentunya menambah sesak persaingan, karena di Jogja sudah berkuasa harian Kedaulatan Rakyat dan harian Bernas, plus koran-koran nasional yang juga mengeluarkan halaman lokal Jogjakarta seperti JawaPos dengan Radar Yogya-nya, Kompas, Seputar Indonesia., Koran Tempo serta Republika. Bahkan, kabar terbaru yang saya terima, Radar Yogya mulai Agustus 2008 akan menjadi harian tersendiri yang terpisah dari harian Jawa Pos alias menjadi mandiri sebagai koran lokal juga. Selain itu, masih ada harian Merapi dan Meteor yang khusus memuat berita-berita kriminal.

Berdasarkan obrolan dengan salah satu agen koran di Jogja, Harian Jogja menjadi salah satu pemain baru yang cukup mencuri perhatian. Dengan harga eceran Rp 1000 (rencananya bulan Agustus akan naik menjadi Rp 1500), dan layout yang cukup menarik (terutama warna ijo-nya itu), Harjo telah cukup meresahkan koran-koran lokal lainnya. Yang terganggu terutama adalah harian Bernas, sedangkan harian Kedaulatan Rakyat masih sulit digoyang dominasinya. Ketika ditanya tentang rencana Radar Yogya yang mencoba mandiri dengan rencana terbit 24 halaman, agen koran tersebut menyebutnya sebagai strategi yang cukup beresiko, karena menurutnya pasar Yogya sudah terlalu sesak.

Beragamnya pilihan tentu saja menguntungkan masyarakat. Apalagi strategi koran seribu-an yang membuat koran menjadi sangat terjangkau. Anak-anak jalanan pun sejenak beralih, dari ngamen atau mengemis menjadi jualan koran. Tetapi sayangnya strategi tersebut tidak bisa berlangsung lama, karena harga kertas juga terus merangkak naik.

 Tentu saja, semuanya punya kesempatan untuk sukses atau minimal bertahan untuk tetap bisa terbit. Seperti halnya partai politik baru yang datang dan pergi silih berganti…

Kalo Anda, baca koran apa hari ini? :)

 

 

Add comment July 31st, 2008

Creative Economy

Dunia politik, ternyata tidak mau ketinggalan untuk ikut meramaikan creative economy. Saya tidak berani menghitung berapa dana yang (sudah dan akan) mengalir deras untuk itu, tapi yang pasti jumlahnya menggiurkan. Strategi pencitraan berikut turunan-turunannya, menjadi menu favoritnya.

Strategi pencitraan tentunya butuh eksekusi. Bentuknya macam-macam, tergantung kreativitas dan tujuannya, misalnya iklan TV, iklan cetak, baliho, billboard, bendera, umbul-umbul, kaos, topi, bahkan lagu beserta artis-artisnya.

Saya pun terbayang betapa bahagianya orang-orang yang kebagian order…

Apa kabar hari ini? Apakah anda juga kebagian order? :)

1 comment July 29th, 2008

Previous Posts


Ruang Pamer

Yang Numpang Lewat

Archives

Recent Posts

Links

Recent Comments

Shinystat