Archive for June, 2008

Cerita dari Launching ADGI Chapter Jogja

header-launching.jpg 

Dalam suasana santai dan penuh kebersamaan, Kamis tanggal 19 Juni 2008, di KopiKopi Cafe Sagan, ADGI Jogja akhirnya diresmikan.

Sumbo Tinarbuko, salah satu anggota advisory boards ADGI mengatakan lembaga ini digerakkan oleh orang-orang desain di Jogja. Di jajaran advisory boards ada A. Noor Arief (Direktur Utama PT. Aseli Dagadu Djokdja), Ong Harry Wahyu (Desainer Grafis Senior), Sumbo Tinarbuko (Konsultan Desain) dan SY Sri Kuncoro (Director Medcom).

Sedangkan di jajaran eksekutif terdiri dari Ketua M. Arief Budiman (Director PT. Petakumpet Creative Work), Sekjen Andika Dwi Djatmiko (Direktur Syafaat Advertising) dan bendahara M. Iqbal (Direktur Rekarupa).

Orientasi program kerja akan mengacu pada dua hal besar yakni local branding yaitu bagaimana men-support brand lokal untuk bisa tumbuh menjadi brand yang sustainable sekaligus menjadi pilot project bagi branding lokal dalam konteks yang lebih luas. Dan kedua creativepreneurship yakni memajukan budaya kreatif mandiri, mewujudkan makin banyak insan kreatif untuk menjadi enterpreneur dengan memposisikan ADGI sebagai komunitas creativepreneur dan men-support dunia akademis untuk menghasilkan lebih banyak alumni yang siap membangun perusahaan, tidak sekedar menjadi pekerja kreatif, tandas Sumbo.

dikutip dari harian Jawa Pos , Rabu, 25 Juni 2008

Berita lengkapnya bisa dibaca disana dan disini.

Gambar pinjem dari sini.


1 comment June 26th, 2008

Kota Pendidikan, Budaya atau Wisata?

Kapan ke Jogja lagi? Jogja sudah berubah lho…

Itu adalah kampanye dari Dagadu (yang Aseli), cendera mata khas Jogja. Disebar dalam bentuk pin. Bagi yang melihat dan membaca, tentu akan bertanya (setidaknya untuk diri sendiri), Kapan ke Jogja lagi? Diharapkan bisa membangkitkan romantisme orang-orang yang merasa alumni Jogja dan tersebar di seluruh penjuru mata angin sehingga menggugah mereka untuk (kembali) bertandang ke Jogja. Kalo pengen tau apa itu Dagadu, monggo mampir kesini.

Jogja sekarang (memang) sudah (banyak) berubah. Modernitas bersanding dengan kesederhanaan di Jogja. Satu sisi, banyak yang menghabiskan waktu nongkrong di coffe shop, cafe, bilyard yang bertebaran di Jogja. Disisi lain, banyak pula yang menghabiskan waktu dan gojeg kere di angkringan, warung kopi, atau di ruang-ruang publik (gratis) yang tersedia. Spanduk, baliho, billboard, dan umbul-umbul bersaing menarik perhatian di perempatan-perempatan jalan dan tempat-tempat yang (dirasa) strategis. Jumlah kendaraan bermotor meningkat pesat dan berebut memenuhi jalanan yang ada. Mobil-mobil keluaran terbaru, yang di era 90-an adalah barang langka di Jogja, sekarang banyak berseliweran di jalanan. Ruko bermunculan dimana-mana, mengikuti pusat-pusat ekonomi baru di seputaran area kampus-kampus besar di Jogja. Mau belanja? Silahkan pilih, mau di pusat perbelanjaan modern seperti Ambarrukmo Plaza atau di pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo. Pentas-pentas budaya tradisional, seminar, program-program promosi beragam produk, konser musik, termasuk yang ajeb-ajeb, silih berganti menjadi pilihan untuk sarana hiburan warga Jogja. Tinggal seleranya atau mood-nya mau yang mana, monggo…

Bagaimana dengan idiom “harga mahasiswa”? Kalo itu sih tergantung, mahasiswa kategori apa. Sekarang di Jogja banyak mahasiswa yang uang sakunya jutaan, bawa mobil keluaran anyar, kos ber-AC, ber-gadget keluaran terbaru dan update pastinya. Tapi juga tidak kalah banyak, mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan bahkan kos masih patungan dengan teman. Indahnya, Jogja (berusaha) merangkul semuanya.

Terus, hubungannya dengan judul di atas itu apa?

Maksud saya, bagi teman-teman yang sudah lama tidak ke Jogja, Kapan ke Jogja Lagi? Sehingga kita bisa diskusi, Jogja sekarang itu cocoknya dijuluki kota apa?

Kota Pendidikan, Budaya, atau Wisata? Atau mungkin ada predikat yang lebih cocok…


Add comment June 25th, 2008

Happy Monday

Seperti halnya tanggal 1 di setiap bulan, hari Senin (bagi saya) adalah awal

Awal untuk melakukan sesuatu, yang lebih baik…


Add comment June 23rd, 2008

Merayakan Hari Ini

Jika masih bisa makan dengan enak dan layak, mari kita rayakan hari ini

Jika masih bisa wara-wiri kemana-mana dengan sehat dan bugar, mari kita rayakan hari ini

Jika masih bisa menghirup nafas dengan bebas, mari kita rayakan hari ini

Dan jika masih bisa ngeblog, jelas sekali harus kita rayakan hari ini…

(Dedikasi untuk kebebasan dan kenikmatan ngeblog, mengingat semakin beratnya tuntutan hidup)

Happy Friday! :)


Add comment June 20th, 2008

Mau ke ADFEST 2009 di Pattaya Gratis?

logounicefrev2.jpg

Kalo teman-teman cinta dengan anak Indonesia dan mau mencoba adu kreativitas, silahkan ikut yang satu ini:

LOMBA ILM UNICEF CINTAI ANAK INDONESIA
Anda bisa turut membantu anak-anak Indonesia dengan membuat kampanye ILM Cintai Anak Indonesia untuk memancing perhatian dan empati masyarakat terhadap berbagai permasalahan anak-anak Indonesia.

TEMA:
Anak anak di Indonesia dan tantangannya yang meliputi: kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, air dan sanitasi.

TERBUKA UNTUK KATEGORI:
1. Praktisi periklanan
2. Mahasiswa

HADIAH DAN KEUNTUNGAN BAGI SANG PEMENANG:

  • tiket ADFEST 2009 di Pattaya, Thailand plus akomodasi dan uang saku (untuk 2 kategori pemenang)
  • menjadi orang kreatif yang diperhitungkan di dunia Periklanan Indonesia maupun Internasional

KRITERIA PENJURIAN:
Unik, menarik, relevan, komunikatif, tidak mengandung pornografi, tidak menyinggung SARA maupun melecehkan pihak lain.

Diharapkan Anda membuat aktivitas kampanye yang lengkap dan terintegrasi (360): cetak, radio, TV, internet, luar ruang, sms dan media alternatif lain.

Buatlah kampanye yang berpotensi menjadi pusat perhatian dan buah bibir yang tentunya tetap dapat mengundang empati masyarakat luas.

DEWAN JURI:
Terdiri dari perwakilan Creative Circle Indonesia, UNICEF, dan praktisi iklan professional

SYARAT MATERI:

  • TVC dalam bentuk storyboard (30 atau 60 detik)
  • Radio Commercial dalam bentuk radio script (60 detik)
  • Print ad ukuran 1 halaman majalah
  • Materi internet, luar ruang, SMS atau media alternatif lain harus disimulasikan dan diilustrasikan dengan jelas
  • Semua materi harus disertai dengan rationale, latar belakang, tujuan, dsb (dalam format Power Point)
  • Materi dikirim dalam bentuk soft copy: jpeg/pdf/tiff/psd, dsb
  • Penyertaan hard copy tidak menjadi keharusan

KIRIM KE:
Sekretariat Lomba ILM UNICEF Cintai Anak Indonesia
Jl. Kerinci XII No. 7 Kebayoran Baru,
Jakarta 12120

JANGAN SAMPAI KETINGGALAN!
Penerimaan paling lambat tanggal 8 Agustus 2008 (cap pos)
Materi dan hak siar akan menjadi hak panitia
Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Keterangan lebih lanjut bisa berkunjung kesini.


Add comment June 19th, 2008

Otodidak Atotidak Hari Ini

bajigur.png

Banyak perdebatan tentang pentingnya pendidikan untuk menunjang pekerjaan, terutama di bidang kreatif. Belajar itu pasti dan emang dilakoni, tapi kan banyak cara untuk meraih keahlian atawa ilmu. Faktanya, banyak orang-orang kreatif yang sukses walaupun mereka bukan berasal dari background pendidikan (formal) kreatif alias belajar secara otodidak. Mereka bisa karena learning by doing, atau didukung (dibentuk) oleh lingkungan plus dikaruniai bakat alam. Disisi lain, banyak juga orang yang berjuang melalui pendidikan formal demi meraih cita-cita untuk berkarier di industri kreatif.

Jadi, OTODIDAK ATOTIDAK? Bagaimana menurut Anda?


Add comment June 18th, 2008

Launching ADGI Chapter Jogja

launching-adgi-jogja-blog.jpg

Image diambil dari sini.


Add comment June 17th, 2008

Bajigur! Hari Ini

bajigur5.jpg

Setelah konsultasi weton dengan Ki Masa Bodo dan dinyatakan lolos sensor oleh LSF, MUI, KUA, Kantor Urusan Sipil serta mengantongi sertifikasi HALAL, akhirnya Bajigur #5 Mantenography berhasil terbit dan sudah bisa didownload sepuasnya sampai klimaks disini.


Add comment June 16th, 2008

Kegagalan Hari Ini

Biasalah… saya tidak suka kegagalan. Dan biasanya saya akan mengganti kata gagal tersebut dengan kata-kata yang lebih halus seperti “belum berhasil”, “belum saatnya”, “masih ada hari esok”, “gagal adalah sukses yang tertunda”, “mungkin bukan jodohnya”, “yang penting sudah mencoba”, atau bahkan “yang terbaik masih menungguku”. Tidak ada yang menginginkan gagal, tetapi tentunya ada yang salah dalam setiap kegagalan. Mencoba untuk evaluasi dan terus memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik tentunya wajib untuk dilakukan setelah itu.

Dalam suatu upaya evaluasi, seorang sahabat memberi tahu saya tentang 8 penyebab kegagalan yang antara lain adalah:

  1. Tetap Skeptis. Orang seperti ini selalu mengatakan dalam hatinya atau juga melalui mulutnya “ah tidak akan berhasil”, “ini bukan untuk saya”, “orang lain bisa tetapi saya tidak akan”, “tidak mungkin”, “terlalu bagus untuk menjadi kenyataan”, dan kalimat-kalimat lainnya. Intinya orang skpetis tidak akan pernah percaya terhadap apa yang ditulis dan dikatakan oleh orang lain.
  2. Besok Waktu Terbaik. OK, bagus, saya akan mulai besok. INi disebut dengan menunda-nunda. Jika hari ini mengatakan bahwa besok akan mulai, maka besok pun besar kemungkinan akan mengatakan hal yang sama, akhirnya besok lagi, besok lagi. Tanpa sadar dia mengatakan besok sampai 1000 kali, artinya dia menunda 1000 hari untuk berbuat baik. Ah tidak mungkin, masak sampai 1000 hari? Pada kenyataannya, banyak yang lebih dari 1000 hari, ada yang sampai puluhan tahun menunda untuk berbuat baik.
  3. Tidak berhasil, tidak apa-apa. Ah coba saja, berhasil syukur, tidak pun tidak apa-apa. Banyak orang seperti ini. Katanya nothing to loose. Betulkah? Jika sejak awal sudah seperti ini, maka kemungkinan berhasil akan jauh berkurang. Yang pertama karena dia tidak benar-benar membutuhkan keberhasilan dan yang kedua dia ragu dengan proses. Dua hal yang justru akan menghambat keberhasilan.
  4. Ah, yang pentingkan….. Ada suatu yang aneh, setelah panjang lebar membaca sebuah buku, akhirnya dia menutup buku dengan mengatakan “Ah, yang pentingkan ….” Sebagai contoh, ada saudara saya yang membaca buku The Secret, kemudian saat saya tanya tentang buku tersebut dia menjawab, “Ah yang pentingkan kita berdoa kepada Allah”. Tidak ada yang salah dengan berdo’a, masalah dari dulu sudah berdo’a, mengapa belum berhasil juga? Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan sambil menyepelekan pelajaran yang didapat.
  5. Tidak Spesifik. Sebagai contoh, saya hanya ingin bahagia. Saya ingin kaya. Kaya seperti apa? Bukankah jika gajinya ditambah Rp 1.000 sudah lebih kaya? Tujuan yang tidak spesifik malah akan membuat tindakan kita mengambang tidak memiliki arah yang jelas. Saya mau ke Jakarta, Jakartanya sebelah mana? Jakarta itu luas bung!
  6. Menyalahkan. Tipe orang seperti ini selalu mencari kambing hitam untuk setiap kesalahan dan kegagalan yang dia alami. Jika selalu menyalahkan orang lain, artinya dia selalu benar dan tidak perlu diperbaiki. Maka sampai kapan pun tidak akan pernah ada perbaikan baginya. Dia kreatif untuk mencari alasan, saya tidak kreatif untuk mencari solusi.
  7. Cepat Menyerah. “Saya sudah mencoba!” OK, Anda sudah mencoba, berapa kali? Tanyakan kepada Thomas Alpha Edison, berapa kali dia mencoba membuah bola lampu. Jika dia berhenti setelah 1000 kali, dia “bisa dibilang punya cukup alasan”. Tetapi dia tidak. Ah, banyak kisah lain yang menceritakan kekuatan mencoba. Sebagai contoh, Nabi Muhammad saw pun berkali-kali mencoba hijrah sebelum ke Madinah.
  8. Yang penting bertindak. “Tidak usah banyak teori, yang penting kita bertindak dan bekerja keras, maka kajaiban akan terjadi.” Saya melihat orang-orang yang begitu kerja keras dalam hidupnya. Mereka selalu bertindak, tidak pernah berpangku tangan. Tapi sayang, mereka tidak mengalami kemajuan berarti dalam hidupnya. Sementara banyak orang yang tindakannya tidak sekeras mereka, tetapi justru lebih berhasil. Artinya, Anda memang harus bertindak, tetapi yang menjadi pertanyaan, “Bertindak seperti apa?” “Bertindak yang bagaiamana?” Bukan asal bertindak.

Nasehat yang indah ini saya ambil dari sini. Semoga dengan evaluasi ini saya dan teman-teman semua bisa memperbaiki sikap dan afirmasi diri dalam menggapai kesuksesan diri.


Add comment June 11th, 2008

Kesibukan Hari Ini

Pilih mana, berleha-leha di kantor atau banting tulang di rumah?

Pilihan yang pertama maksudnya adalah banyak sekali para pekerja yang datang ke kantor tapi bingung mau ngerjain apa alias tidak ada kerjaan, akhir bulan gajian. Sedangkan pilihan yang kedua adalah orang-orang yang berusaha membangun bisnis dari rumahnya sendiri, mau gaji berapa tergantung dari kinerja bisnisnya.

Hidup pada dasarnya adalah persaingan. Bagi orang yang memilih untuk menjadi pegawai kantoran, persaingan yang dihadapi adalah untuk memperoleh pekerjaan yang bagus dan karier yang setinggi-tingginya. Sedangkan bagi orang yang memilih untuk menjadi entrepreneur, yang dihadapi adalah persaingan bisnis dan bagaimana biar tetap survive dan sukses.

Kesalahan terbesar kita adalah melakukan sesuatu hanya karena hal tersebut kelihatannya mudah dan cenderung menghindari resiko. Dan ketika kita mengambil suatu pilihan, berarti resiko atas pilihan tersebut (harusnya) kita sudah siap…


Add comment June 10th, 2008

Previous Posts


Ruang Pamer

Yang Numpang Lewat

Archives

Recent Posts

Links

Recent Comments

Shinystat